Pendakian Gunung Papandayan dimulai dari Camp
David. Dari pos pertama itu, pendaki menyusuri
medan yang masih landai dengan jalanan berbatu.
Perjalanan tidak akan terasa karena bekapan
keindahan gunung di kanan-kirinya.
Gunung-gunung lain di kawasan Garut, seperti
Cikuray dan Guntur turut mewarnai perjalanan
menuju puncak Papandayan. Gunung itu begitu
indah saat sebagian puncaknya tertutup kabut atau
awan.
Setelah perjalanan sekitar satu jam, Kawah
Papandayan mulai terlihat di depan mata. Aroma
belerang menyengat. Medan mulai berganti
menjadi tanah keras berwarna putih dan kuning.
Yang menjadi khasnya, asap putih tipis mengebul
dari area kawan, melewati puncak gunung,
membumbung tinggi ke angkasa.
Setelah melewati Kawah Papandayan, medan mulai
terasa berat. Jalanan menjadi tanah yang sangat
licin saat diterpa hujan. Beberapa tanjakan terjal
pun harus dilalui. Saat itu, keyakinan diri dan
kesetiakawanan menjadi pegangan.
Setelah perjalanan selama sekitar tiga jam,
pendaki sampai di area kemah Pondok Saladah.
Area itu berupa padang rumput dan rumpun
pepohonan yang luasnya mencapai 8 hektar. Di
sanalah para pendaki mendirikan tenda. Dari
Pondok Saladah di ketinggian 2288 mdpl, dapat
terlihat pemandangan puncak gunung yang
bersalut kabut.
Pondok Saladah bukan tujuan utama pendakian.
Dari situ, pendaki bisa menelusuri keindahan di
sekitar yang khas Papandayan, termasuk hutan
mati. Itu merupakan areal yang dipenuhi
pepohonan kering, berdiri tegak dengan ranting-
rantingnya yang seperti menggelitik angkasa.
Jika di siang hari Hutan Mati terasa eksotis,
pemandangan berbeda akan terasa saat pagi atau
sore. Hutan Mati diselimuti kabut tebal. Nuansa
mistis kental terasa. Menembusnya, bagai
menyingkap tabir misteri yang berujung keindahan.
Hutan Mati menyajikan pesona misterius yang
membius langkah pendaki.
Menghentikan langkah di Hutan Mati sama saja
menyongsong kesia-siaan. Masih ada yang lebih
indah di atasnya. Pendaki perlu melewati jalan
landai dan tanjakan super terjal untuk menuju
Tegal Alun. Di sana, hamparan padang edelweiss
telah menanti. Rumpun-rumpun tanaman
menopang sekelompok bunga putih kecil yang
indah.
Senin, 09 Februari 2015
Menembus Kabut Misteri di Hutan Mati
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar