Sabtu, 07 Februari 2015

Pesona Gunung Salak yang Misterius





"Manusia cuma bisa menjejak puncak, tapi tak
pernah bisa menaklukan gunung." (Gasten
Rebuffat- The Great Alpinist/ ahli mountaineering,
1921-1985, Prancis)
Tulisan ini tertera pada sebuah papan yang
ditempel di sebuah pohon di jalur pendakian
Gunung Salak, Jawa Barat. Kalimat ini seolah
mengingatkan para pendaki untuk tidak berlaku
pongah dan sombong karena telah menjejakkan
kaki di puncak gunung.
Alam tak pernah takluk meski jutaan manusia telah
menjamahnya. Sebaliknya, manusia yang
seharusnya bersyukur karena telah diberi
penghidupan oleh alam, dan diberi kesempatan
menikmati ciptaan Ilahi.
Bukan tanpa alasan papan tersebut dipasang di
jalur pendakian Gunung Salak. Berbagai peristiwa
yang terjadi di gunung yang memiliki tiga puncak
ini menjadi pembuktian bahwa alam tak pernah
dapat sepenuhnya ditaklukkan manusia.
Daftar panjang pendaki yang hilang, dan pesawat
jatuh merupakan beberapa isyarat untuk tidak
pernah meremehkan alam. Belum lagi legenda
yang berkaitan dengan Prabu Siliwangi atau Sri
Baduga Maharaja, raja terakhir Kerajaaan
Padjadjaran.
Sebagian masyarakat Tatar Sunda meyakini Prabu
Siliwangi beserta Kerajaan Padjadjaran dan
prajuritnya menghilang secara misterius di Gunung
Salak setelah terdesak pengaruh Islam yang
disebarkan anaknya sendiri, Kian Santang.
Terlepas berbagai peristiwa yang hingga kini masih
misterius itu, Gunung Salak yang terletak di
perbatasan Sukabumi dan Bogor ini masih memiliki
pesona dengan banyaknya air terjun alami yang
seolah mengelilingi gunung ini.
Terdapat Curug Cigamea, Curug Seribu, Curug
Ngumpet, Curug Pangeran, Curug Nangka, Curug
Luhur, dan lainnya.
Selain itu sebagai gunung api strato tipe A,
Gunung Salak memiliki sebuah kawah dengan luas
yang cukup besar bernama Kawah Ratu. Deru
suara uap, asap yang terus mengepul, bau
belerang yang menyengat, dan pepohonan yang
mengering menandakan kawah yang berada di
pinggang Gunung Salak ini masih aktif.
Untuk menegaskan hal itu, beberapa papan
dipasang oleh petugas Taman Nasional Gunung
Halimun Salak (TNGHS) sebagai peringatan
kepada pengunjung akan bahaya menghirup gas
yang dikeluarkan karena dapat menyebabkan
kematian.
Meski demikian, puluhan hingga ratusan orang
setiap harinya mengunjungi kawah yang berada di
ketinggian 1.437 mdpl ini. Sekadar untuk
menikmati keindahan pemandangan dan aktifitas
geologi di Kawah Ratu, atau melintasi kawah ini
saat mendaki ke Puncak Salak.
Bahkan, pada hari-hari tertentu seperti akhir
pekan, beberapa pengunjung ada yang nekat
mendirikan tenda dengan jarak sekitar 100 meter
dari area kawah.
Untuk sampai area Kawah Ratu yang masih berada
di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun
Salak, pengunjung dapat beristirahat dengan
mendirikan tenda atau menyewa penginapan di
Desa Gunung Bunder, Kecamatan Pamijahan,
Kabupaten Bogor sebelum memulai pendakian
melalui Gerbang Gunung Bunder atau naik melalui
gerbang di Desa Pasir Reungit.
Dengan jarak sekitar 5 km Gunung Bunder menuju
Kawah Ratu dapat ditempuh sekitar 3 jam bagi
yang terbiasa mendaki. Sedangkan jika melalui
Pasir Reungit dengan jarak sekitar 3,6 km, Kawah
Ratu dapat ditempuh sekitar 2 jam.
Sementara jika melalui Sukabumi, jalur pendakian
dapat dimulai dari Bumi Perkemahan Cangkuang,
Cidahu dengan jarak sekitar 4,5 km.
Puncak Salak I dengan ketinggian 2.211 meter di
atas permukaan laut (m.dpl) lebih rendah
dibanding tetangganya Gunung Gede (2.958 m.dpl)
atau Gunung Pangrango (3.019 m.dpl), namun
Gunung Salak dikenal sebagai gunung yang
memiliki karakter jalur lebih terjal dengan
pepohonan yang rapat.
Hutan lebat yang menutupi tubuh gunung membuat
kontur tidak mudah terlihat. Jalur yang terjal
dengan dipenuhi bebatuan membuat jalur menuju
Kawah Ratu sulit dilalui terutama jika hujan turun.
Medan yang cukup sulit ini justru membuat
Gunung Salak kerap menjadi lokasi pelatihan dan
pendidikan kelompok-kelompok pecinta alam.
Semua kesulitan dan cerita mengenai gunung yang
namanya berasal dari kata Salaka atau perak
dalam bahasa Sanskerta ini tak terasa begitu
menapaki jalur pendakian.
Melalui gerbang Pasir Reungit, sepanjang jalur
pendakian, pengunjung akan disuguhi hijaunya
pepohonan, beningnya Sungai Cikuluwung dan
suara kawanan burung penghuni Gunung Salak.
Setelah perjalanan sekitar satu jam lebih, aroma
belereng mulai tercium. Bau belereng yang semakin
menyengat menandakan pengunjung harus mulai
menggunakan masker karena akan tiba di Kawah
Mati I dan Kawah Mati II, sebelum akhirnya tiba di
Kawah Ratu sekitar setengah jam kemudian.
Sesampainya di Kawah Ratu, rasa lelah melewati
jalanan terjal yang terkadang licin terbayar tuntas.
Namun gas berbahaya yang dihasilkan membuat
pengunjung tak dapat berlama-lama menikmati
fenomena alam yang menakjubkan ini.
Dari Kawah Ratu, pengunjung dapat melanjutkan
perjalanan menuju Puncak Salak I dengan waktu
tempuh sekitar 3 jam, dan kembali ke Gunung
Bunder atau ke Cidahu, Sukabumi.
Apapun pilihannya, pendaki harus selalu mengingat
perjalanannya bukan untuk menaklukkan alam,
tetapi menikmati dan mensyukuri karunia-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar