Tampilkan postingan dengan label jejak langkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jejak langkah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Februari 2015

SURVIVAL MUTLAK

Aktivitas di alam terbuka sering memunculkan situasi darurat. Tersesat, terhadang cuaca buruk, atau kehabisan bekal. Jangan panik, tumbuhan liar hutan menyediakan aneka daun, buah, umbi, batang yang bisa dimakan, asalkan kita mengenal ciri - cirinya.

Kalau anda mengaku pencinta alam yang doyan menempuh rimba atau mendaki gunung, pasti kenal dengan istilah survival, yaitu upaya untuk bisa bertahan hidup di alam liar. Pengetahuan survival wajib dikuasai oleh para petualang untuk menghadapi situasi darurat lantaran kehilangan orientasi atau kehabisan bekal.

Kiat hidup darurat ini penting, soalnya alam kerap sulit diprediksi perilakunya, walaupun sejak awal Anda telah mempersiapkan segala sesuatu secermat mungkin. Misalnya peta lokasi, kompas, global positioning system (alat untuk mengetahui posisi sesaat dengan bantuan satelit), alat komunikasi ( HT,HP ), bekal, dan obat - obatan.

Dengan pengetahuan survival yang andal, anda seperti mempunyai jurus pamungkas yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan di saat posisi terjepit. Sebagian dari ilmu survival itu adalah pengetahuan tentang aneka tumbuhan liar yang layak dan aman untuk dimakan.

Menurut para ahli, 10% dari keseluruhan jenis tumbuhan berbunga di dunia ada di Indonesia. Artinya kita memiliki kurang lebih 25.000 jenis tumbuhan berbunga. Jika ditambah dengan tumbuhan tak berbunga dan jamur, maka jumlahnya akan berlipat - lipat. Dari keseluruhan jenis tumbuhan itu ada yang beracun, ada yang bisa dimakan, dan ada yang disarankan untuk dimakan.

Tak beracun = dimakan satwa
Untuk mengetahui apakah suatu jenis tumbuhan di hutan aman atau tidak untuk dimakan, ada beberapa kunci yang bisa dijadikan pegangan.

Tumbuhan yang daun, bunga, buah, atau umbinya biasa dimakan oleh satwa liar, adalah tumbuhan yang tidak beracun. Jadi kita bisa mengkonsumsinya. Sementara, tumbuhan yang berbau tidak sedap dan bisa membuat pusing, serta tidak disentuh oleh binatang liar, sebaiknya jangan disentuh. Juga tumbuhan bergetah yang membikin kulit gatal, dianjurkan untuk dihindari.

Tumbuhan lain yang perlu disingkirkan adalah tanaman yang daunnya bergetah pekat, berwarna mencolok, berbulu, atau permukaannya kasar. Tanaman dengan daun yang keras atau liat juga jangan dikonsumsi. Jika mendapatkan tumbuhan kemaduh ( Laportea stimulans ) waspadalah lantaran bulu pada daunnya membuat kulit gatal dan panas.

Sementara itu beberapa jenis tumbuhan yang mungkin ditemui di hutan dan dapat dimakan meliputi beragam jenis. Di antaranya keluarga palem-paleman, misalnya kelapa, kelapa sawit, sagu, nipah, aren, dan siwalan. Bukan hanya bagian umbutnya ( bagian ujung batang muda dan berwarna putih ) yang bisa dimakan, tapi juga buahnya ( seperti kelapa dan siwalan ).

Hindari warna mencolok
Selain tumbuhan di atas, jamur juga bisa menjadi dewa penyelamat bila tersesat. Menurut literatur, sudah ditemukan 38.000 jenis jamur di seantero dunia. Di antaranya ada yang enak dimakan, tapi sayang, yang tidak boleh dimakan karena beracun lebih banyak lagi. Tidak heran bila budaya makan jamur yang layak konsumsi konon sudah ada sejak jaman Mesir Kuno.

Untuk mengetahui jamur itu beracun atau tidak, bisa dilihat dari bentuk, warna, dan tempat tumbuhnya. Sementara di laboratorium, bisa dilakukan analisis secara kimiawi maupun dengan hewan percobaan. Tetapi jika sedang dihadapkan pada masalah mendesak survival di hutan belantara, mustahil bisa pergi ke laboratorium dulu untuk memastikan apakah jamur yang ditemukan itu beracun atau tidak. Karena itu kita perlu mengenal jamur - jamur yang biasa dikonsumsi masyarakat.

Untuk menghindari makan jamur liar beracun, perlu diketahui ciri - cirinya. Yaitu, warna payungnya gelap atau mencolok misalnya biru, kuning, jingga, merah. Perkecualian untuk jamur kuping dengan payung coklat yang toh juga dapat dimakan.

Bau tidak sedap lantaran kandungan asam sulfida atau amonia juga sekaligus menunjukkan jamur tersebut tak layak konsumsi.

Tahukah anda, beberapa jenis jamur ada yang memiliki cincin atau cawan pada tangkainya, misalnya jenis Amanita muscaria, dalam bahasa Jawa disebut supa - upas. Bentuknya seperti payung putih kekuningan, bagian payungnya warna merah bintik - bintik putih. Awas, racun pada jamur ini tergolong racun kuat. Beda dengan jamur merang ( Volvariella volvacea ), meski mempunyai cincin tetapi bisa dimakan.

Jamur beracun umumnya tumbuh di tempat kotor, misalnya pada kotoran hewan dsb. Mereka dapat berubah warna jika dipanasi. Jika diiris dengan pisau perak atau digoreskan pada perkakas perak akan meninggalkan warna biru. Warna biru ini disebabkan kandungan sianida atau sulfida, yang beracun. Sementara nasi akan berwarna kuning jika dicampur jamur beracun. Petunjuk lain, ia juga tidak dimakan oleh hewan liar.

Repotnya jenis jamur ini juga berbahaya kalau sampai sporanya menempel pada kulit, karena dapat menyebabkan kulit gatal, bahkan melepuh. Bagaiamana ciri - ciri orang yang keracunan jamur? Selidikilah, apakah ia pusing, perut sakit terutama ulu hati, mual, sering buang air kecil, tubuh lemas, pucat? Jika ia muntah, adakah darah pada muntahannya? Racun akibat jamur cukup ganas juga, kalau tidak tertolong korban bisa meninggal setelah 3 - 7 hari.

Sebelum dimakan, tumbuhan liar di hutan sebaiknya dimasak dulu untuk mengurangi dampak buruk seperti diare dan alergi. Bagaimana kalau sedang coba - coba makan tumbuhan hutan lantas keracunan? Masih ada upaya menetraliskan. Upayakan untuk memuntahkannya dengan jalan "dipancing - pancing". Jika sudah muntah minumlah air kelapa. Pil norit mungkin bisa juga membantu mengurangi kadar racun, kalau ada

Jenis jambu - jambuan yang masuk dalam keluarga Myrtaceae juga banyak dijumpai di hutan. Ciri - ciri Myrtaceae adalah daunnya berbau agak manis jika diremas. Bunganya memiliki banyak sekali benang sari dengan buah yang enak dimakan.

Tumbuhan semak dari keluarga begonia juga bisa jadi penyelamat dalam keadaan darurat. Daun begonia umumnya berbentuk jantung tidak simetris. Beberapa jenis dijadikan tanaman hias. Bila tangkai daunnya yang masih muda dikupas dan dimakan, rasanya masam dan sedikit pahit.

Beberapa jenis keladi umbinya bisa dimakan, meski pada jenis lain umbinya menyebabkan gatal di mulut dan bibir. Untuk itu dianjurkan untuk tidak sembarangan melahap keladi hutan. Sebaiknya dicoba dulu dalam jumlah kecil. Hindari makan iles - iles ( Amorphophallus sp. )

Tumbuhan merambat dan melilit di pohon lain, bisa dimakan jika lilitan batang ke arah kanan (searah dengan jarum jam). Di antaranya gembili ( Dioscorea aculeata ), gembolo ( Dioscorea bulbifera ), ubi rambat. Tapi bila arah lilitannya ke kiri ( berlawanan arah jarum jam ) dan batangnya berduri, harus ekstrahati-hati. Jenis yang kedua ini misalnya gadung ( Dioscorea hispida ), yang beracun, walau tetap dapat dimakan setelah melalui proses pengolahan khusus.

Sementara keluarga rumput - rumputan seperti tebu dan beberapa jenis bambu, rebungnya enak dimakan. Demikian pula pisang hutan bisa langsung dikonsumsi.

Di tempat yang lembap dan tinggi, jenis paku - pakuan tunas dan daun mudanya enak dimakan. Tumbuhan lain yang buahnya juga bisa dimakan misalnya markisa ( Passiflora sp.). Markisa ini adalah tumbuhan merambat dengan bunga khas. Beberapa anggota keluarga sirsak ( Annonaceae ), misalnya Annona muricata, daging buahnya segar. Buah lainnya semisal senggani ( Melastoma sp.), arbei hutan ( Rubus ), dan anggur hutan.

Rabu, 18 Februari 2015

Tempat terbaik untuk melihat Edelweis di Indonesia

"Edelweiss.. Edelweiss.. Every morning you greet me. Small and white, clean and bright. You look happy to meet me.."

Itulah salah satu lirik lagu berjudul Edelweiss yang dinyanyikan dalam film musikal ternama, Sound of Music. Sesuai lirik lagunya, bunga ini berwarna putih dan bentuknya kecil. Edelweis hidup di dataran tinggi, ribuan meter di atas permukaan laut.

Para pendaki gunung umumnya akrab dengan Edelweis. 'Bunga Abadi' ini tumbuh di dataran tinggi, khususnya di puncak-puncak gunung. Di Indonesia, Edelweis terbanyak adalah spesies Anaphalis javanica yang tersebar di Pulau Jawa. Walaupun termasuk spesies langka, tentu saja anda bisa mendatangi langsung habitat alami bunga ini. Dan itu berarti anda harus mendaki gunung. Inilah tempat di Indonesia yang bisa anda datangi untuk melihat si putih nan cantik ini.

1. Alun-alun Surya Kencana (Gunung Gede, Jawa Barat)

2. Alun-alun Mandalawangi (Gunung Pangrango, Jawa Barat)

3. Plawangan Sembalun (Gunung Rinjani, Lombok)

4. Tegal Alun (Gunung Papandayan, Jawa Barat)

Selain tempat yang disebutkan di atas, Indonesia masih punya beberapa tempat lain yang menjadi habitat bunga Edelweis. Dan akan lebih baik jika anda tidak memetik bunga tersebut demi kelestarian bunga abadi ini.

Senin, 09 Februari 2015

Goa Rancang Kencono (Pintu Gaib Menuju Merapi)

Kabupaten Gunung Kidul memang kesohor akan
pantai-pantainya yang indah dan menawan.
Namun pesona alam yang tak kalah indah juga
banyak kita temukan di sana. Salah satunya
berupa sebuah goa purba yang sangat menarik
yakni Goa Rancang Kencono. Goa yang berada di
desa Bleberan Kecamatan Playen tersebut konon
sudah berusia ratusan atau bahkan ribuan tahun.
Nama Rancang Kencono sendiri didapat karena di
goa inilah Laskar Mataram dulunya merancang
strategi perang melawan Penjajahan Belanda.
Keberadaan goa Rancang Kencono juga searah
dengan air terjun Sri Gethuk. Jadi bila kita kesana,
ibarat buy 1 get 1 free. Tidak seperti goa-goa pada
umumnya, goa Rancang Kencono seolah berada di
dalam tanah. Jadi untuk masuk kedalamnya, kita
harus menuruni beberapa anak tangga batu. Dan
tepat berada di depan mulut goa, terdapat sebuah
pohon Klumpit (Terminalia Edulis) yang masih
alami. Bagi sebagian masyarakat, kayu ini
dipercaya bertuah memudahkan permohonan yang
bersifat keduniawi-an.
Di kiri kanan pohon ini masih menyambung anak
tangga menuju ke mulut goa. Tepat di depan mulut
goa (berada di belakang pohon Klumpit) terdapat
semacam panggung kombinasi dari batu dan tanah
dengan halaman yang landai dan luas. Dari sinilah
kita bisa mulai menemukan stalagtit-stalagtit yang
menggantung menghiasi mulut goa.
Secara keseluruhan, goa Rancang Kencono
memang tidak begitu banyak berhias ornamen
selain stalagtit-stalagtit yang menggantung di
langit-langit goa. Namun justru karena tidak
adanya stalagmit pada lantai goa, berarti
memudahkan kita untuk melakukan berbagai
aktivitas di dalam goa. Karena luas dan
lapangannya tempat ini sering kali digunakan
untuk berbagai kegiatan seperti sarasehan,
camping, ataupun berbagai kegiatan lain.
Goa Rancang Kencono ini terbagi menjadi 3
ruangan. Ruangan pertama berupa pelataran yang
landai dan luas dengan cukup sinar matahari,
karena tempatnya berada di dekat mulut goa.
Menurut petugas di sana, konon di tempat ini
pernah ada kehidupan dari jaman prasejarah. Di
bagian dinding menuju ruangan kedua juga
terdapat semacam relief batu yang menurut
petugas mirip dengan jengklot.
Memasuki bagian ruangan kedua, jalanan semakin
sempit dan gelap. Petugaspun telah menyiapkan
beberapa lampu senter sebagai alat penerangan.
Di bagian ruangan kedua ini konon dipergunakan
untuk ruang semedi. Di ruangan ini terdapat
semacam meja batu yang konon digunakan untuk
bersila tatkala bersemedi.
Menuju ruangan ketiga (bagian terdalam dari goa),
jalanan sangat-sangat sempit. Untuk masuk
kedalamnya kita harus berjalan berjongkok satu
per satu. Namun ternyata begitu lorong sempit tadi
kita lewati, di dalam sana terdapat sebuah ruangan
yang luas. Kita bisa berdiri dan menyaksikan bukti-
bukti perjuangan laskar Mataram di sini. Di dinding
goa pada ruangan ini terdapat semacam “prasasti”
atau janji prajurit yang tulisan “Prasetya
Bhinnekaku” di bagian atasnya, serta lambang
burung garuda di sampingnya.
Tak jauh dari “prasasti” atau sumpah prasetya tadi
juga terdapat ornamen unik yang berbentuk seperti
sebuah kunci yang menempel pada dinding goa.
Menurut petugas, konon kunci ini merupakan kunci
gaib yang membuka jalan dari goa Rancang
Kencono ke Gunung Merapi.
Terlepas benar atau tidaknya penjelasan tersebut,
Goa Rancang Kencono memang merupakan goa
unik yang patut kita jaga dan kita lestarikan
keberadaannya. Sayangnya tangan-tangan jahil
lebih dulu mengotori goa ini dengan berbagai
coretan-coretan yang tak berarti namun sangat
mengurangi nilai historis dan keindahan goa itu
sendiri.